Cerita ini berdasarkan kisah nyata dari seseorang yang ku kenal. Dan aku membuatnya menjadi sebuah cerita, Selamat membaca....
LOVE
IS PAIN
Nisa berfikir tak percaya bahwa nasib
malang itu akan menimpa dirinya. Gadis manapun pasti tidak ingin jika kisah
cintanya berakhir dengan pengkhianatan. Sama hal nya dengan Nisa, yang
merasakan pedihnya cinta yang selama 6 tahun ini dia jaga baik-baik akhirnya sirna
karena seorang laki-laki yang buta akan seorang mahkluk Tuhan yang disebut
wanita.
Sinar matahari menerobos masuk
melewati ventilasi sebuah ruang kelas XI IA di daerah Pemalang. Seorang gadis terlihat
asyik sedang memainkan jarinya dengan lihai pada keypad handphone barunya.
Handphone itu didapat dari kakaknya, karena hasil usahanya telah mempertahankan
prestasi selama 2 tahun di SMA dengan menduduki peringkat 1 paralel dan mendapatkan
beasiswa pula.
Gadis itu bernama Khoirunnisa atau
lebih sering di panggil Nisa. Nisa anak terakhir dari 9 bersaudara yang terlahir
di sebuah keluarga dengan ekonomi yang cukup. Nisa mengurus ibunya seorang diri
yang sedang sakit stroke, karena kakak-kakaknya sudah menikah dan ada pula yang
kuliah di luar kota. Nisa seorang gadis apa adanya, cuek, mudah bergaul dan
serius dalam belajar. Itu yang membuatnya memiliki sahabat dan banyak teman
yang peduli dengannya.
“Nisaaa, kamu lagi ngapain ? kok
senyum-senyum sendiri ?” Teriak Yuli salah satu sahabat Nisa dari ambang pintu.
“Aduh, kamu itu bikin kaget aja. Ini
lagi chattingan sama temen.” Jawab Nisa singkat sambil melihat kearah handphone
nya lagi.
“Temen apa temen nih…” Goda Yuli
sambil duduk di sebelah Nisa.“ Trus kok kamu bisa kenal sama dia ?” Tanya Yuli.
“Kenalnya sih nggak sengaja, kan
operator lagi eror jadi Ryan mau telpon temennya malah nyasarnya ke nomorku.
Jadi mulai saat itu Ryan jadi temenku deh.” Cerocos Nisa panjang lebar.
“Oh namanya Ryan nih” Senyum Yuli
penuh makna pada Nisa. “Apa Ryan seumuran dengan kita Nis ? Terus dia sekolah
dimana ?” Tanya Yuli penasaran.
“Iya, Ryan seumuran kok sama kita,
tapi dia anak Pondok Pesantren di Kudus. Udah ah Yul, jangan tanya-tanya terus
mendingan kamu piket dulu sana.” Perintah Nisa.
“Iya iya, mentang-mentang lagi
kasmaran.” Kata yuli sambil menyapu lantai kelas.
Setelah 1 bulan berlalu, akhirnya
Nisa dan Ryan berpacaran. Tetapi karena berada di kota yang berbeda, Nisa dan
Ryan berpacaran jarak jauh selama 1 tahun. Pada saat peringatan 1 tahun mereka
berpacaran, Nisa dan Ryan berencana untuk bertemu pertama kalinya di rumah
Nisa. Dengan tujuan untuk meminta restu kepada keluarga Nisa, bahwa mereka
telah berpacaran.
“Jadi sudah 1 tahun kamu menjalin
hubungan dengan Nisa ? Apa kamu serius dengan Nisa?” Tanya Pak Handoyo yang
tidak lain adalah ayah Nisa pada Ryan dengan nada serius dan tegas.
“Iya pak, saya benar-benar serius
pada Nisa dan saya tulus ikhlas menyayangi Nisa.” Jawab Ryan sungguh-sungguh.
Dan Nisa hanya diam mendengar pembicaraan tersebut.
“Tapi kalian berdua kan masih
sekolah, dan kalian juga baru bertemu sekarang ini kan.” Katanya sambil melihat
bergantian ke arah Nisa dan Ryan bergantian. “Apa kalian benar-benar bisa
menjaga perasaan satu sama lain ?” Lanjutnya lagi.
“Aku mau berpacaran dengan Ryan, karena
Ryan mau berhubungan jarak jauh dan bisa menjaga perasaan Nisa selama ini yah.
Ryan juga bersedia dipertemukan dengan keluarga kita pada pertemuan pertama
kita, itu yang membuat Nisa kagum dengan Ryan dan yakin menjalin hubungan
dengan Ryan.” Tutur Nisa panjang lebar.
Suasana hening sejenak, tanpa ada
yang berbicara karena sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Setelah itu
Pak Handoyo memecahkan keheningan dan berkata “Selama Nisa masih duduk di bangku
SMA, ayah belum mengijinkan Nisa untuk berpacaran, karena dapat mengganggu
pendidikan Nisa, alangkah baiknya jika kalian berdua berteman saja. Toh Ryan
juga masih sekolah.” Nasihat Pak Handoyo sembari berlalu masuk ke dalam kamar.
Nisa dan Ryan akhirnya memutuskan
untuk tetap berpacaran tetapi dengan cara backstreet. Selama backstreet, Nisa
dan Ryan hanya berkomunikasi lewat handphone dan chatting. Tetapi saat
menjelang Ujian Nasional, Nisa mendapatkan musibah. Ibu yang selama ini
dirawatnya dengan kasih sayang telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya,
dan disaat cobaan itu menimpa Nisa, Ryan tidak berada di sampingnya. Sebenarnya
Ryan ingin menemani Nisa, tetapi karena demi menjaga perasaan Pak Handoyo Ryan
mengurungkan niatnya untuk menemani Nisa.
Sepeninggal ibunya, Nisa mulai dekat
dengan ayahnya yang sebelumnya mempunyai hubungan yang tidak terlalu baik
dengan Nisa. Hubungan Nisa dan Ryan pun tetap terjaga baik hingga mereka berdua
lulus SMA dan memutuskan untuk melanjutkan kuliah bersama di salah satu
Universitas terkemuka di Semarang. Setelah masuk kuliah, Nisa memberanikan diri
untuk berbicara kembali dengan ayahnya menyangkut hubungannya dengan Ryan.
Akhirnya Pak Handoyo merestui hubungan Nisa dengan Ryan.
Semenjak saat itu Nisa dan Ryan menjalin
hubungan tanpa beban, karena telah mendapatkan restu dari kedua belah pihak
keluarga dan menjalani hari-hari penuh dengan kebahagiaan. Akan tetapi, Pada
awal semester 5, mulai muncul permasalahan yaitu adanya pihak ketiga dari pihak
Ryan.
“Ryan siapa tu Putri ? ” Tanya Nisa
dengan nada curiga.
“Putri ? Putri siapa ?” Jawab Ryan
santai.
“Itu loh, anak PBA B (Pendidikan
bahasa arab).” Sahut Nisa.
“Oh, Puput. Puput itu temen satu
organisasiku.” Kata Ryan.
“Jangan bohong kamu Ryan, aku tau
kok dia itu selingkuhanmu !!!” Kata Nisa dengan nada tinggi.
“Jangan asal nuduh kamu Nis. Kamu
dengar gosip itu dari siapa ?” Tanya Ryan sewot.
“Banyak kok yang tahu, kalau kalian
berdua itu ada something. Jujur aja deh Yan !” Kata Nisa emosi.
“Beneran deh Nis, kamu lebih percaya
aku apa percaya sama gosip murahan itu ?” Kata Ryan emosi juga.
“Oke, untuk saat ini aku percaya
sama kamu, tapi jika kamu benar-benar terbukti ada main-main sama Puput, aku
nggak akan pernah mau kenal lagi sama kamu.” Jawab Nisa sungguh-sungguh.
Setelah itu hubungan Nisa dan Ryan
kembali baik seperti semula. Tetapi saat semester 8, mereka mengikuti salah
satu mata kuliah yaitu KKN sebagai salah satu syarat kelulusan. Nisa mendapat
kabar dari temannya bahwa Ryan berselingkuh dengan teman satu posko KKN yang
bernama Monalisa. Setelah mendapat kabar tersebut, Nisa mulai mencari bukti
akan kebenaran berita itu.
Dan Nisa menemukan bukti bahawa Ryan
benar-benar berselingkuh, dengan melihatnya secara langsung di sebuah tempat foto
copyan dengan Monalisa yang sedang bergelayut manja pada lengan Ryan. Saat itu
juga, Nisa mendatangi Ryan dan Monalisa dengan perasaan campur aduk antara
sedih, kecewa, marah, dan tentunya sakit yang teramat sangat.
“DASAR MUNAFIK KALIAN !!! Bilangnya
nggak ada something, tapi kenyataannya kalian bermain di belakangku. Mulai saat
ini kita PUTUS!!!” Kata Nisa berapi-api menahan bulir air mata yang akan tumpah
saat itu juga.
Saat itu, Nisa tanpa sadar melihat
Ryan meneteskan air mata. Tetapi itu tidak mengurungkan niat Nisa untuk
berpisah dengan Ryan, karena luka yang ditorehkan oleh Ryan telah mampu
meruntuhkan pertahanan yang selama ini dibuat Nisa.. Selamat tinggal kasih, kau
telah berhasil membuat hatiku hancur berkeping-keping.
Hingga saat ini Nisa masih sakit
hati jika mengingat kejadian itu, karena cinta yang terjalin selama 6 tahun
kandas dengan mengenaskan dan hingga saat ini bayang-bayang Ryan masih sering
muncul di benak Nisa. Memang tidak mudah untuk melupakan Ryan, tetapi Nisa
berharap dengan berjalannya waktu dapat melupakan Ryan dan mendapatkan seseorang
yang lebih baik dan lebih mencintai Nisa sepenuh hatinya.
By : Melly Kristina Sukarto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar