Selasa, 17 September 2013

LOVE IS PAIN



Cerita ini berdasarkan kisah nyata dari seseorang yang ku kenal. Dan aku membuatnya menjadi sebuah cerita, Selamat membaca....


LOVE IS PAIN

            Nisa berfikir tak percaya bahwa nasib malang itu akan menimpa dirinya. Gadis manapun pasti tidak ingin jika kisah cintanya berakhir dengan pengkhianatan. Sama hal nya dengan Nisa, yang merasakan pedihnya cinta yang selama 6 tahun ini dia jaga baik-baik akhirnya sirna karena seorang laki-laki yang buta akan seorang mahkluk Tuhan yang disebut wanita.

            Sinar matahari menerobos masuk melewati ventilasi sebuah ruang kelas XI IA di daerah Pemalang. Seorang gadis terlihat asyik sedang memainkan jarinya dengan lihai pada keypad handphone barunya. Handphone itu didapat dari kakaknya, karena hasil usahanya telah mempertahankan prestasi selama 2 tahun di SMA dengan menduduki peringkat 1 paralel dan mendapatkan beasiswa pula.

            Gadis itu bernama Khoirunnisa atau lebih sering di panggil Nisa. Nisa anak terakhir dari 9 bersaudara yang terlahir di sebuah keluarga dengan ekonomi yang cukup. Nisa mengurus ibunya seorang diri yang sedang sakit stroke, karena kakak-kakaknya sudah menikah dan ada pula yang kuliah di luar kota. Nisa seorang gadis apa adanya, cuek, mudah bergaul dan serius dalam belajar. Itu yang membuatnya memiliki sahabat dan banyak teman yang  peduli dengannya.


            “Nisaaa, kamu lagi ngapain ? kok senyum-senyum sendiri ?” Teriak Yuli salah satu sahabat Nisa dari ambang pintu.
            “Aduh, kamu itu bikin kaget aja. Ini lagi chattingan sama temen.” Jawab Nisa singkat sambil melihat kearah handphone nya lagi.
            “Temen apa temen nih…” Goda Yuli sambil duduk di sebelah Nisa.“ Trus kok kamu bisa kenal sama dia ?” Tanya Yuli.
            “Kenalnya sih nggak sengaja, kan operator lagi eror jadi Ryan mau telpon temennya malah nyasarnya ke nomorku. Jadi mulai saat itu Ryan jadi temenku deh.” Cerocos Nisa panjang lebar.
            “Oh namanya Ryan nih” Senyum Yuli penuh makna pada Nisa. “Apa Ryan seumuran dengan kita Nis ? Terus dia sekolah dimana ?” Tanya Yuli penasaran.
            “Iya, Ryan seumuran kok sama kita, tapi dia anak Pondok Pesantren di Kudus. Udah ah Yul, jangan tanya-tanya terus mendingan kamu piket dulu sana.” Perintah Nisa.
            “Iya iya, mentang-mentang lagi kasmaran.” Kata yuli sambil menyapu lantai kelas.

            Setelah 1 bulan berlalu, akhirnya Nisa dan Ryan berpacaran. Tetapi karena berada di kota yang berbeda, Nisa dan Ryan berpacaran jarak jauh selama 1 tahun. Pada saat peringatan 1 tahun mereka berpacaran, Nisa dan Ryan berencana untuk bertemu pertama kalinya di rumah Nisa. Dengan tujuan untuk meminta restu kepada keluarga Nisa, bahwa mereka telah berpacaran.

            “Jadi sudah 1 tahun kamu menjalin hubungan dengan Nisa ? Apa kamu serius dengan Nisa?” Tanya Pak Handoyo yang tidak lain adalah ayah Nisa pada Ryan dengan nada serius dan tegas.
            “Iya pak, saya benar-benar serius pada Nisa dan saya tulus ikhlas menyayangi Nisa.” Jawab Ryan sungguh-sungguh. Dan Nisa hanya diam mendengar pembicaraan tersebut.
            “Tapi kalian berdua kan masih sekolah, dan kalian juga baru bertemu sekarang ini kan.” Katanya sambil melihat bergantian ke arah Nisa dan Ryan bergantian. “Apa kalian benar-benar bisa menjaga perasaan satu sama lain ?” Lanjutnya lagi.
            “Aku mau berpacaran dengan Ryan, karena Ryan mau berhubungan jarak jauh dan bisa menjaga perasaan Nisa selama ini yah. Ryan juga bersedia dipertemukan dengan keluarga kita pada pertemuan pertama kita, itu yang membuat Nisa kagum dengan Ryan dan yakin menjalin hubungan dengan Ryan.” Tutur Nisa panjang lebar.

            Suasana hening sejenak, tanpa ada yang berbicara karena sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Setelah itu Pak Handoyo memecahkan keheningan dan berkata “Selama Nisa masih duduk di bangku SMA, ayah belum mengijinkan Nisa untuk berpacaran, karena dapat mengganggu pendidikan Nisa, alangkah baiknya jika kalian berdua berteman saja. Toh Ryan juga masih sekolah.” Nasihat Pak Handoyo sembari berlalu masuk ke dalam kamar.

            Nisa dan Ryan akhirnya memutuskan untuk tetap berpacaran tetapi dengan cara backstreet. Selama backstreet, Nisa dan Ryan hanya berkomunikasi lewat handphone dan chatting. Tetapi saat menjelang Ujian Nasional, Nisa mendapatkan musibah. Ibu yang selama ini dirawatnya dengan kasih sayang telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya, dan disaat cobaan itu menimpa Nisa, Ryan tidak berada di sampingnya. Sebenarnya Ryan ingin menemani Nisa, tetapi karena demi menjaga perasaan Pak Handoyo Ryan mengurungkan niatnya untuk menemani Nisa.

            Sepeninggal ibunya, Nisa mulai dekat dengan ayahnya yang sebelumnya mempunyai hubungan yang tidak terlalu baik dengan Nisa. Hubungan Nisa dan Ryan pun tetap terjaga baik hingga mereka berdua lulus SMA dan memutuskan untuk melanjutkan kuliah bersama di salah satu Universitas terkemuka di Semarang. Setelah masuk kuliah, Nisa memberanikan diri untuk berbicara kembali dengan ayahnya menyangkut hubungannya dengan Ryan. Akhirnya Pak Handoyo merestui hubungan Nisa dengan Ryan.

            Semenjak saat itu Nisa dan Ryan menjalin hubungan tanpa beban, karena telah mendapatkan restu dari kedua belah pihak keluarga dan menjalani hari-hari penuh dengan kebahagiaan. Akan tetapi, Pada awal semester 5, mulai muncul permasalahan yaitu adanya pihak ketiga dari pihak Ryan.

            “Ryan siapa tu Putri ? ” Tanya Nisa dengan nada curiga.
            “Putri ? Putri siapa ?” Jawab Ryan santai.
            “Itu loh, anak PBA B (Pendidikan bahasa arab).” Sahut Nisa.
            “Oh, Puput. Puput itu temen satu organisasiku.” Kata Ryan.
            “Jangan bohong kamu Ryan, aku tau kok dia itu selingkuhanmu !!!” Kata Nisa dengan nada tinggi.
            “Jangan asal nuduh kamu Nis. Kamu dengar gosip itu dari siapa ?” Tanya Ryan sewot.
            “Banyak kok yang tahu, kalau kalian berdua itu ada something. Jujur aja deh Yan !” Kata Nisa emosi.
            “Beneran deh Nis, kamu lebih percaya aku apa percaya sama gosip murahan itu ?” Kata Ryan emosi juga.
            “Oke, untuk saat ini aku percaya sama kamu, tapi jika kamu benar-benar terbukti ada main-main sama Puput, aku nggak akan pernah mau kenal lagi sama kamu.” Jawab Nisa sungguh-sungguh.

            Setelah itu hubungan Nisa dan Ryan kembali baik seperti semula. Tetapi saat semester 8, mereka mengikuti salah satu mata kuliah yaitu KKN sebagai salah satu syarat kelulusan. Nisa mendapat kabar dari temannya bahwa Ryan berselingkuh dengan teman satu posko KKN yang bernama Monalisa. Setelah mendapat kabar tersebut, Nisa mulai mencari bukti akan kebenaran berita itu.

            Dan Nisa menemukan bukti bahawa Ryan benar-benar berselingkuh, dengan melihatnya secara langsung di sebuah tempat foto copyan dengan Monalisa yang sedang bergelayut manja pada lengan Ryan. Saat itu juga, Nisa mendatangi Ryan dan Monalisa dengan perasaan campur aduk antara sedih, kecewa, marah, dan tentunya sakit yang teramat sangat.

            “DASAR MUNAFIK KALIAN !!! Bilangnya nggak ada something, tapi kenyataannya kalian bermain di belakangku. Mulai saat ini kita PUTUS!!!” Kata Nisa berapi-api menahan bulir air mata yang akan tumpah saat itu juga.

            Saat itu, Nisa tanpa sadar melihat Ryan meneteskan air mata. Tetapi itu tidak mengurungkan niat Nisa untuk berpisah dengan Ryan, karena luka yang ditorehkan oleh Ryan telah mampu meruntuhkan pertahanan yang selama ini dibuat Nisa.. Selamat tinggal kasih, kau telah berhasil membuat hatiku hancur berkeping-keping.

            Hingga saat ini Nisa masih sakit hati jika mengingat kejadian itu, karena cinta yang terjalin selama 6 tahun kandas dengan mengenaskan dan hingga saat ini bayang-bayang Ryan masih sering muncul di benak Nisa. Memang tidak mudah untuk melupakan Ryan, tetapi Nisa berharap dengan berjalannya waktu dapat melupakan Ryan dan mendapatkan seseorang yang lebih baik dan lebih mencintai Nisa sepenuh hatinya.


 By : Melly Kristina Sukarto













Tidak ada komentar:

Posting Komentar